Nama : Lindri Lestari
Nim :11901199
Kelas :
PAI 4 F
Makul :
Magang 1 ( Hasil Bacaan)
Kultur Sekolah
1. Pengertian Kultur Sekolah
Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.
Budaya sekolah merupakan himpunan
norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita
yang membentuk persona sekolah. Budaya sekolah
merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun
dari waktu ke waktu oleh guru, siswa,
orangtua dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi.
Pola budaya sangat abadi, memiliki
dampak yang kuat pada
kinerja, dan membentuk bagaimana
orang berpikir, bertindak dan merasa. Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan
upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan,
untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif dan
untuk mengakui kontribusi masyarakat
terhadap sekolah. Budaya sekolah juga
meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti,
memperkuat misi, membangun komitmen dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda
lahiriyah nilai. Cerita merupakan
representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif,
fitur tersebut memperkuat proses
pembelajaran, komitmen dan motivasi, karena menjamin para anggota
konsisten dengan visi sekolah.
Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi
cara orang berpikir, merasa dan
bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci
keberhasilan sekolah dalam
mempromosikan staf dan belajar siswa.
Sedangkan menurut Willard Waller
(Deal & Peterson, 2011), sekolah
memiliki budaya yang pasti
tentang diri mereka sendiri. Di sekolah,
ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat
istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekola dan
siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan,
tentang sekolah mereka,
tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk
dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan
akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan
sekolah.
Menurut Antropologi (Koentjaraningrat,
2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta
karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan
miliknya dengan belajar.Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama
oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap,
nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu,
suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi
berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar
proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009:
21).
Dari pengertian di atas dapat
disimpulkan bahawa kultur sekolah atau kebudayaan sekolah adalah keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami
lingkungan sekitarnya dan menjadi landasan bagi tingkah lakunya. Setiap sekolah
memiliki kebudayaan sekolah yang berbeda dari sekolah satu ke sekolah lainnya
maka dari itu kita tidak bisa menyamakan budaya satu dengan budaya sekolah
lainnya.
2.
Karakteristik Kultur/ Budaya Sekolah
Kultur atau budaya sekolah di
harapkan bisa memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan
yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis/ aktif, positif dan profesiomal.
Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya di akibatkan oleh dampak keterkaitan
kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan
kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara roses mengubah
sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada,
walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
yang
positif
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kultur-kultur yang direkomendasikan
Depdiknas untuk dikembangkan antara lain, adalah sebagai berikut :
·
Kultur yang terkait prestasi/kualitas :
a. Semangat
membaca dan mencari referensi
b. Keterampilan
siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup
c. Kecerdasan
emosional siswa
d. Keterampilan
komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis
e. Kemampuan
siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
·
Kultur yang terkait dengan kehidupan
sosial :
a. Nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan
b. Nilai-nilai
keterbukaan
c. Nilai-nilai
kejujuran
d. Nilai-nilai
semangat hidup
e. Nilai-nilai
semangat belajar
f. Nilai-nilai
menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain
g. Nilai-nilai
untuk menghargai orang lain
h. Nilai-nilai
persatuan dan kesatuan
i.
Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan
berprasangka positif
j.
Nilai-nilai disiplin diri
k. Nilai-nilai
tanggung jawab
l.
Nilai-nilai kebersamaan
m. Nilai-nilai
saling percaya
n. Dan
nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003: 25-26).
Kultur sekolah bersifat dinamis.
Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang
jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini
ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif.
3.
Fungsi Kultur Sekolah
Dalam upaya meningkatkan mutu
sekolah untuk terus menerus melakukan perbaikan, peningkatan kualitas sekolah.
Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki
empat fungsi, yaitu:
Ø Sebagai
alat untuk membangun identitas (jati diri).
Ø Kultur
sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.
Ø Kultur
sekolah akan mendorong terbentuknya persaingan dan dinamika sosial yang
berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak
terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
Ø Kultur
sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.
4. Mitra Sekolah Membangun Kultur Sekolah
Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan mitra kerja yaitu orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya. Sekolah harus menjadi organisasi pembelajar yang melakukan pembelajaran untuk mencapai apa yang diinginkan, yakni dengan mengajak semua warga sekolah mengembangkan sistem dan pola berpikir yang lebih baik. Selain itu sekolah harus melakukan evaluasi diri agar menjadi dasar perencanaan untuk \membangun budaya yang tepat sesuai dengan kondisi nyata.
5.
Praktik Pengembangan Kultur Sekolah
Kultur sekolah dimiliki oleh
tiap-tiap sekolah oleh karena itu masing-masing
sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur yang
bervariasi di sejumlah sekolah.
Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan
aspek-aspek yang dianggap penting oleh
masing-masing sekolah, seperti: visi-misi,
kondisi dan potensi
sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk
mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah
yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan
pendidikan memiliki kecerdasan majemuk
(multiple intelligences) yang bervariasi.
Adapun kultur
sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi
pengembangan:
v Prestasi
Akademik
Di
sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik
(academic athmosphere) yang bertujuan
untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanya
terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah.
Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada
prestasi lainnya, padahal apapun prestasi dari anak itu harus di hargai dan di
dukung baik dari segi akademik mau pun non-akademik.
v Non-Akademik
Prestasi
non-akademik juga dapat dikembangkan melalui
kultur sekolah yang
menghargai prestasi olah-raga,
seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat
dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai,
sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir
secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap
penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi
seringkali terabaikan. Padahal
dalam realitasnya, kesuksesan seseoran tidak hanya ditentukan oleh prestasi
akademik yang telah dimiliki,
melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.
v Karakter
Karakter berkaitan
dengan moral dan berkonotasi
positif. Pendidikan untuk
pembangunan karakter pada
dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan
suasana atau lingkungan
yang menggugah, mendorong, dan
memudahkan seseorang
mengembangkan kebiasaan yang
baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang menjadi
kebiasaan baik ini terjadi karena
adanya dorongan dari
dalam, bukan karena paksaan
dari luar (HB
X, 2012). Adapun variasi
nilai karakter yang
dapat dikembangkan melalui kultur
sekolah antara lain: yang
kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai
demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan
lain-lain.
Kelestarian
Lingkungan Hidup Sejumlah sekolah di
berbagai level (SD, SMP, SMA)
mendapatkan penghargaan dan
predikat sebagai sekolah adiwiyata,
yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam
menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian,
predikat sekolah adiwiyata
tidak muncul dengan sendirinya tanpa
diupayakan melalui
pengembangan kultur sekolah
ramah lingkungan. Sejumlah
sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki
visi-misi yang berorientasi pada kehidupan
dan kondisi lingkungan masa
depan yang lebih
baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan
komitmen bersama seluruh warga
sekolah dalam pengemban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar