Rabu, 07 Juli 2021

Kultur Sekolah

Nama          : Lindri Lestari

Nim            :11901199

Kelas          : PAI 4 F

Makul         : Magang 1 ( Hasil Bacaan)

                    Kultur Sekolah

1.      Pengertian Kultur Sekolah

            Menurut  Peterson  (2002),  suatu  budaya  sekolah mempengaruhi  cara  orang  berpikir,  merasa,  dan bertindak.  Mampu  memahami  dan  membentuk budaya  adalah  kunci  keberhasilan  sekolah  dalam mempromosikan staf dan belajar siswa.  Sedangkan menurut  Willard  Waller  (Deal  &  Peterson,  2011), sekolah  memiliki  budaya  yang  pasti  tentang  diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set  kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara  mereka. Orangtua,  guru,  kepala sekolah,  dan  siswa selalu  merasakan sesuatu  yang istimewa,  namun  seringkali  tak  terdefinisikan, tentang  sekolah  mereka,  tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.

            Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Budaya sekolah  merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun  dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki  dampak yang  kuat  pada  kinerja,  dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak dan merasa. Dalam perjalanannya,  sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan,  untuk memberikan kesempatan selama transisi  kolektif dan  untuk  mengakui kontribusi  masyarakat  terhadap  sekolah. Budaya sekolah  juga  meliputi  simbol dan cerita  yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan  representasi  sejarah  dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses  pembelajaran, komitmen dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

            Menurut Peterson  (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang  berpikir, merasa dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah  kunci  keberhasilan sekolah  dalam mempromosikan staf dan belajar siswa.  Sedangkan menurut  Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah  memiliki  budaya yang pasti tentang  diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara  mereka. Orangtua, guru, kepala sekola dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang  sekolah  mereka,  tentang  sesuatu  yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.

            Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

            Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa kultur sekolah atau kebudayaan sekolah adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan sekitarnya dan menjadi landasan bagi tingkah lakunya. Setiap sekolah memiliki kebudayaan sekolah yang berbeda dari sekolah satu ke sekolah lainnya maka dari itu kita tidak bisa menyamakan budaya satu dengan budaya sekolah lainnya.

2.      Karakteristik Kultur/ Budaya Sekolah

            Kultur atau budaya sekolah di harapkan bisa memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis/ aktif, positif dan profesiomal. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya di akibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara roses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang

positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

            Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain, adalah sebagai berikut :

·         Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

a.       Semangat membaca dan mencari referensi

b.      Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup

c.       Kecerdasan emosional siswa

d.      Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis

e.       Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

·         Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :

a.       Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan

b.      Nilai-nilai keterbukaan

c.       Nilai-nilai kejujuran

d.      Nilai-nilai semangat hidup

e.       Nilai-nilai semangat belajar

f.       Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain

g.      Nilai-nilai untuk menghargai orang lain

h.      Nilai-nilai persatuan dan kesatuan

i.        Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif

j.        Nilai-nilai disiplin diri

k.      Nilai-nilai tanggung jawab

l.        Nilai-nilai kebersamaan

m.    Nilai-nilai saling percaya

n.      Dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

            Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif.

3.      Fungsi Kultur Sekolah

            Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah untuk terus menerus melakukan perbaikan, peningkatan kualitas sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu:

Ø  Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri).

Ø  Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi.

Ø  Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya persaingan dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.

Ø  Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.

4.      Mitra Sekolah Membangun Kultur Sekolah

        Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan mitra kerja yaitu orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya. Sekolah harus menjadi organisasi pembelajar yang melakukan pembelajaran untuk mencapai apa yang diinginkan, yakni dengan mengajak semua warga sekolah mengembangkan sistem dan pola berpikir yang lebih baik. Selain itu sekolah harus melakukan evaluasi diri agar menjadi dasar perencanaan untuk \membangun budaya yang tepat sesuai dengan kondisi nyata.

5.      Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

            Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah oleh karena itu masing-masing  sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur yang bervariasi di  sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap  penting  oleh  masing-masing  sekolah, seperti:  visi-misi,  kondisi  dan  potensi  sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang  fokus untuk  mendorong  pencapaian  prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan,  mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan  majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi.

            Adapun  kultur  sekolah yang  dapat  dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

v  Prestasi Akademik

            Di sekolah yang menghargai  prestasi  akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan  untuk  mencapai prestasi  akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya, padahal apapun prestasi dari anak itu harus di hargai dan di dukung baik dari segi akademik mau pun non-akademik.

v  Non-Akademik

            Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui  kultur  sekolah  yang  menghargai  prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah  menganggap  penting  prestasi  akademik siswa. Profil  kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali  terabaikan.  Padahal  dalam realitasnya, kesuksesan seseoran tidak hanya ditentukan oleh  prestasi  akademik  yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

v  Karakter

            Karakter  berkaitan  dengan moral  dan berkonotasi positif.  Pendidikan  untuk  pembangunan  karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses  dan  suasana  atau  lingkungan  yang menggugah,  mendorong,  dan  memudahkan seseorang  mengembangkan  kebiasaan  yang  baik. Karakter  bersifat  inside-out,maksudnya  bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini  terjadi  karena  adanya  dorongan  dari  dalam, bukan  karena  paksaan  dari  luar  (HB  X,  2012). Adapun  variasi  nilai  karakter  yang  dapat dikembangkan  melalui  kultur  sekolah  antara  lain: yang  kondusif  bagi  pengembangannilai-nilai religius,  nilai  demokrasi,  kedisiplinan,  kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

            Kelestarian Lingkungan Hidup  Sejumlah sekolah di berbagai  level (SD, SMP, SMA) mendapatkan  penghargaan  dan  predikat  sebagai sekolah  adiwiyata,  yaitu  sekolah  menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam  menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat  sekolah  adiwiyata  tidak  muncul  dengan sendirinya  tanpa  diupayakan  melalui pengembangan  kultur  sekolah  ramah  lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi  pada  kehidupan  dan  kondisi lingkungan  masa  depan  yang  lebih  baik  dan berkelanjutan  (sustainability).  Untuk mewujudkannya,  memerlukan  komitmen  bersama seluruh warga sekolah dalam pengemban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SISTEM EVALUASI

Nama : Lindri Lestari (11901199) Kelas : PAI 4 F Dosen : Farninda Aditya,M.Pd Pengertian Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pembelajaran adalah ...